Sifat Uluw (Maha Tinggi) dan Istiwa` Allah Ta’ala

Point Kelima
Sifat Uluw (Maha Tinggi) dan Istiwa` Allah Ta’ala

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata dalam Ashlu As-Sunnah:

وَأَنَّ اللهَ -عَزَّ وَجَلَّ- بائِنٌ مِنْ خَلْقِهِ كَما وَصَفَ نَفْسَهُ فِي كِتابِهِ وَعَلَى لِسانِ رَسُوْلِهِ, بِلاَ كَيْفَ. أَحاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

[Terjemah]
Dan bahwa Allah -Azza wa Jalla- terpisah (tidak berbaur) dengan makhluk-Nya sebagaimana yang Dia sifatkan diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, tanpa ada pertanyaan ‘bagaimana?’ Ilmu-Nya melingkup segala sesuatu. “Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

[Syarh]
Pada point ini, penulis rahimahullah menyebutkan mengenai akidah ahlissunnah wal jamaah dalam masalah keberadaan dzat Allah Ta’ala, bahwasanya Allah Ta’ala Maha Tinggi dari seluruh makhluk-Nya. Inilah aqidah yang diyakini oleh para nabi dan kaumnya di setiap zaman, sejak dari zaman Nabi Adam alaihissalam sampai kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Kisah Nabi Adam alaihissalam yang diciptakan oleh Allah di langit lalu beliau disuruh untuk menempati surga sampai musibah dikeluarkannya beliau beserta Hawa alaihassalam dari surga turun ke bumi. Semua ini menunjukkan bahwa Allah Ta’ala yang menciptakan Adam, yang menyuruhnya tinggal di surga, dan yang mengusirnya turun ke bumi, itu berada di atas langit. Dan kisah beliau tersebut dalam beberapa surah dalam Al-Qur`an. Demikian halnya Nabi Musa alaihissalam yang merupakan nabi pertama dan pimpinannya kaum Bani Israil. Beliau mengajarkan kepada kaumnya -baik yang beriman di antara mereka maupun yang kafir- bahwasanya Allah Ta’ala yang mengutus beliau berada di atas langit.

Karenanya Fir’aun berkata kepada Haman:
وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا هَامَانُ ابْنِ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَبْلُغُ الْأَسْبَابَ. أَسْبَابَ السَّمَاوَاتِ فَأَطَّلِعَ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ كَاذِبًا
“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu,  (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.” (QS. Al-Mu`min: 36-37)
Dan dalam ayat yang lain disebutkan ucapannya:
فَأَوْقِدْ لِي يَا هَامَانُ عَلَى الطِّينِ فَاجْعَلْ لِي صَرْحًا لَعَلِّي أَطَّلِعُ إِلَىٰ إِلَٰهِ مُوسَىٰ وَإِنِّي لَأَظُنُّهُ مِنَ الْكَاذِبِينَ
“Maka bakarlah hai Haman untukku tanah liat kemudian buatkanlah untukku bangunan yang tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa dia termasuk orang-orang pendusta.” (QS. Al-Qashash: 38)
Kedua ayat ini menunjukkan bahwa Nabi Musa alaihissalam mengajarkan kepada Fir’aun bahwa Allah Ta’ala berada di atas langit. Karenanya Fir’aun mengolok-olok Nabi Musa alaihissalam dengan ucapan seperti di atas.

Adapun Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, maka peristiwa mi’rajnya beliau shallallahu alaihi wasallam ke atas langit ketujuh, sampai melewati sidratul muntaha, sampai tidak ada yang menghalangi antara beliau dengan Allah Ta’ala kecuali hijab-Nya. Peristiwa ini sungguh lebih dari cukup untuk menetapkan ketinggian dzat Allah Ta’ala di atas langit. Maka sungguh termasuk dari keajaiban dimana ada seseorang yang mengingkari Allah Ta’ala berada di atas langit atau dia meyakini bahwa Allah Ta’ala berada di mana-mana, padahal mungkin setiap tahun dia ikut merayakan malam isra` mi’raj Nabi shallallahu alaihi wasallam. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari kesesatan.
Jadi, keyakinan bahwa Allah Ta’ala berada di atas langit ketujuh merupakan akidah yang mutlak diyakini karena telah menjadi kesepakatan seluruh para nabi dan kaumnya. Karenanya, siapa saja yang mengingkari ketinggian Allah Ta’ala di atas seluruh makhluk-Nya maka sungguh dia telah menyelisihi agama seluruh para nabi, yang menyebabkan dirinya kafir dan keluar dari agama Islam, wal ‘iyadzu billah.

Masalah aqidah yang berkenaan dengan judul di atas adalah:
1. Apakah dibenarkan bertanya tentang keberadaan Allah dengan kata tanya ‘dimana?’
2. Puluhan dalil dari Al-Qur`an, sunnah, ijma’, dan akal yang menunjukkan bahwa Allah Ta’ala tinggi di atas langit dan berada di atas arsy.
3. Haramnya melakukan takyif dalam sifat-sifat Allah. Apa itu takyif? Dan bagaimana saja bentuk-bentuknya?
4. Tafsiran ayat, “Dia bersama kalian dimanapun kalian berada.” Dan Cara mengompromikannya dengan semua dalil yang menunjukkan bahwa Allah di atas langit.
5. Tafsir surah Asy-Syura ayat 11.

Incoming search terms:

  • dalil kebersamaan dengan muhammad di surga
  • kebersaman allah
  • surat al isra ayat 36-37
  • tafsir surah al-qashas ayat 38

No related posts.

WordPress Themes